Langsung ke konten utama

Unggulan

Wujud Harap

Ternyata benar ya, apa yang kita jalani saat ini bisa jadi adalah bagian dari apa yang selama ini kita do'akan. Dulu semasa pendidikanku masih sebatas taman kanak-kanak aku gemar sekali bermain peran menjadi seorang guru. Ya... kamu gak salah dengar. Aku memang sudah memiliki cita-cita ini sejak kecil. Konsep guru di mataku sudah tertanam kuat bahkan sejak aku baru mengenal indahnya jungkat-jungkit.  Aku suka bicara sendiri dengan buku-buku milik ibuku semasa SMA sebagai bahan pegangan. Ceritanya lagi ngajarin murid-murid, padahal mah lagi ngomong sama angin. Selayaknya anak TK pada umumnya aku jelas tidak mengerti isi buku yang sebagian besar dipenuhi gambar anatomi tumbuhan itu. Dan aku juga tidak bisa mengingat apa yang saat itu aku terangkan kepada angin di hadapanku, tapi satu hal yang pasti ingatanku dan ingatan orang-orang terdekat masih sangat lekat dengan peristiwa itu. Bahkan ketika pada akhirnya aku diterima di salah satu sekolah untuk berbagi ilmu, aku melihat mbah putr...

Ingat ini,, Aul

Seseorang akan dihadapkan pada pilihan yang sulit ketika mencapai usia 20an. Antara merelakan untuk tetap tinggal bersama kedua orang tua dengan segala konflik dan bahagianya, atau memilih egois dan merantau dengan dalih mengejar cita-cita atau cinta. Terlebih bagi seseorang yang lahir di daerah dan sempat merantau ke kota untuk mengenyam pendidikan tinggi. Menyelesaikan masa kuliah tentu kebanggan bagi diri dan keluarga, namun timbul perasaan enggan melepaskan kenyamanan duniawi yang disuguhkan oleh daerah perkotaan dengan begitu banyak hal menarik yang tidak ditemukan di daerah asal. Lantas jika ini terjadi padamu, keputusan seperti apa yang akan kamu ambil. Pergi dengan banyak kebimbangan atau menetap dan menjalani hari-hari seperti sebelum kamu mengenal gemerlap itu.


Jujur, sebagai seseorang yang "terjebak" pada keegoisan untuk "kabur" dari rumah karena merasakan ketidak cocokan dengan orang tua aku merasakan perasaan tidak rela kembali ke desa. Masa kuliah yang kuhabiskan dengan merantau membuat aku terbiasa berada jauh dari rumah, rasanya sudah nyaman hidup di tanah rantau, rasanya enggan untuk pulang dan menetap lama. Tapi, kelulusan ini memaksa aku untuk kembali pulang. Hampir satu bulan aku merasa sesak di dada karena rindu kostan dan kehidupanku di tanah rantau, konflik mulai bermunculan, pusing, bingung, ingin pergi tapi tidak tahu harus menjadikan apa sebagai alasan. Hingga akhirnya aku mencoba untuk menjalani hari-hari di sini setelah menonton sebuah film pendek yang berhasil menyadarkan aku bahwa waktu kita bersama orang tua yang kita anggap "tidak cocok" hanya sebentar. Kita tidak punya banyak waktu tinggal bersama beliau setelah mencapai usia 20an, entah untuk menikah atau takdir memaksa tinggal jauh karena urusan pekerjaan. Percayalah, seberat dan sepedih apapun tinggal bersama orang tua dengan usia yang sama-sama sudah besar dan keegoisan yang tinggi jauh lebih baik daripada memutuskan untuk merantau dan melewatkan kesempatan melihat dan merawat beliau sebelum memutuskan benar-benar menikah. Yakinlah, tiga atau empat tahun setelah lulus kuliah akan ada seseorang yang melamarmu dan membawamu pergi (sudut pandang perempuan), maka nikmatilah saat-saat terakhirmu bebas sebagai seorang gadis 20 tahunan di rumah orang tuamu, rawatlah mereka, berbicaralah banyak hal dengan mereka, maafkan dan lupakan semua ketidakcocokannya, leburlah, maka kelak saat waktunya tiba untukmu meninggalkan rumah kamu akan pergi dengan kehangatan dan banyak kenangan indah itu. 


Kamar Oranye kesayanganku, 

Rosantien 

Komentar

Postingan Populer