Wujud Harap
Ternyata benar ya, apa yang kita jalani saat ini bisa jadi adalah bagian dari apa yang selama ini kita do'akan. Dulu semasa pendidikanku masih sebatas taman kanak-kanak aku gemar sekali bermain peran menjadi seorang guru. Ya... kamu gak salah dengar. Aku memang sudah memiliki cita-cita ini sejak kecil. Konsep guru di mataku sudah tertanam kuat bahkan sejak aku baru mengenal indahnya jungkat-jungkit. Aku suka bicara sendiri dengan buku-buku milik ibuku semasa SMA sebagai bahan pegangan. Ceritanya lagi ngajarin murid-murid, padahal mah lagi ngomong sama angin. Selayaknya anak TK pada umumnya aku jelas tidak mengerti isi buku yang sebagian besar dipenuhi gambar anatomi tumbuhan itu. Dan aku juga tidak bisa mengingat apa yang saat itu aku terangkan kepada angin di hadapanku, tapi satu hal yang pasti ingatanku dan ingatan orang-orang terdekat masih sangat lekat dengan peristiwa itu. Bahkan ketika pada akhirnya aku diterima di salah satu sekolah untuk berbagi ilmu, aku melihat mbah putriku menangis dan berkata kepada Alm kakungku bahwa cucunya sudah benar-benar menjadi apa yang sering mereka saksikan saat kecil dulu.
Singkat waktu, hari ini di sinilah aku. Di usiaku yang hampir menginjak kesuksesan ini eaaaa... hhehe. Aku berada pada apa yang saat itu aku impikan. Sungguh semesta benar-benar baik, dia memberikan aku kesempatan untuk dapat merasakan berbicara dan berbagi ilmu dengan manusia sungguhan, bukan lagi angin. Ini kan benar-benar di luar prediksi, karena beberapa tahun lalu ada hal-hal yang membuat nyaliku ciut dan hampir menyerah untuk cita-cita ini. Sejauh ini pekerjaan ini benar-benar menyenangkan, meski di lain sisi tentu ada tantangan yang terasa seperti kerikil di tengah pasir parang tritis. Tapi bukankah hidup yang tidak pernah dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan? ujar perdana menteri pertama Indonesia. Maka tidak ada jalan lain untuk putar balik selain jalan yang ada di hadapanku ini,
Dariku yang penuh ragu sekaligus penuh harap, Rosantien.
Komentar
Posting Komentar