Langsung ke konten utama

Unggulan

Jurnal Akhir Sekolah Bagian 40

Magrib, senja tanpa kopi. Aku menuliskan bagian jurnal ini tepat seusai menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Jurnal ini ku tulis untik arsip diriku di masa depan. Aulora, jika kau membaca jurnal ini, tolong ingatlah bahwa kau pernah amat menggebu merubah nasib keluargamu, bahwa dirimu pernah sungguh-sungguh berjuang untuk mewujudkan anganmu sedari SD dahulu yakni menjadi seorang guru. Guru yang baik adalah guru yang belajar dari kehidupan. Guru yang baik adalah guru yang ikhlas mengapdikan seluruh hidupnya untuk menebarkan ilmu. Maka belajarlah dari naskah luar biasa yang Allah tuliskan untukmu. Ingat, bukan sukses namanya bila hanya materi yang kau kejar mati-matian, karena apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik. Aulora, berjuanglah dengan segenap-genapnya hatimu. Bila apa yang saat ini kau miliki atau kau jalani tidak kau senangi, maka senangilah ia mulai sekarang. Karena hanya takdir Allah yang terbaik. Aulora, masa depan yang sebenarnya itu bukan di sini, bukan di dunia...

Mari Menanyakan Ini Kepada Diri Sendiri

 Ada dua hal di dalam dunia pendidikan yang tidak dapat diabaikan begitu saja,

1. Kesejahteraan para guru yang senantiasa menjadi isu nasional dan diperjuangkan bersama

2. Efektivitas dan kualitas guru yang hanya dapat diraih dengan evaluasi dan pembelajaran sepanjang hayat

Ya, menjadi guru berarti siap belajar sepanjang hayat. Menjadi guru berarti harus siap perbaikan setiap saat. Menjadi guru berarti harus siap berhadapan dengan banyak ketidakpastian. Bukan hanya siswa yang harus belajar untuk meningkatkan pengetahuan, guru pun meski sudah sekolah tinggi tidak berarti berhenti belajar. Belajar memahami, belajar menurunkan ego, belajar menyampaikan pemahaman, belajar beradaptasi, dan paling sulit belajar mengevaluasi diri sendiri.

Seorang rekan pernah berkata bawah pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang terjadi dua arah, siswa menerima informasi baru, dan guru menerima pemahaman baru mengenai dirinya dan perkembangan siswa nya.

Seandainya dunia pendidikan belum mampu memberikan penghidupan yang pantas, apakah lantas yang terjadi justru profesionalitas disandingkan dengan materi duniawi.

Pada kenyataanya, disadari atau tidak menjadi guru adalah perihal seni menempatkan 100 persen hati, meskipun terkadang 50 50 dengan riuhnya isi kepala, makanya yang sering timbul jusru tugas yang diberikan dipilih sebagai wahana menyibukkan siswa dengan rutinitas semata, bukan didasari pada tujuan pembelajaran akan pendalaman materi. 

Lantas, mari menanyakan ini

Sudahkah lahir jiwa pendidik yang 100% itu di dalam hatimu

Pendidik yang tidak hanya menjadikan sekolah sebagai ladang penghasilan

Pendidik yang tidak hanya menjadikan kelas sebagai seremonial semata

Pendidik yang tidak hanya menjadikan siswa sebagai wadah bercerita perihal pengalaman masa lalu

Karena faktanya, para siswa hanya membaca sebagian kecil dari yang mereka butuhkan, lantas 2 hari 3 hari kemudian mereka melupakan informasi yang diperoleh karena merasa tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. 

Mike Schmoker dalam bukunya menyatakan bahwa "Guru paling berbakat sekalipun menyadari keterbatasan mereka, dan guru yang baik adalah dia yang mau dikritik, senantiasa mengevaluasi diri, dan melakukan perbaikan atas dirinya sendiri."


Dariku yang penuh retak, Rosantien

Komentar

Postingan Populer