Langsung ke konten utama

Unggulan

Wujud Harap

Ternyata benar ya, apa yang kita jalani saat ini bisa jadi adalah bagian dari apa yang selama ini kita do'akan. Dulu semasa pendidikanku masih sebatas taman kanak-kanak aku gemar sekali bermain peran menjadi seorang guru. Ya... kamu gak salah dengar. Aku memang sudah memiliki cita-cita ini sejak kecil. Konsep guru di mataku sudah tertanam kuat bahkan sejak aku baru mengenal indahnya jungkat-jungkit.  Aku suka bicara sendiri dengan buku-buku milik ibuku semasa SMA sebagai bahan pegangan. Ceritanya lagi ngajarin murid-murid, padahal mah lagi ngomong sama angin. Selayaknya anak TK pada umumnya aku jelas tidak mengerti isi buku yang sebagian besar dipenuhi gambar anatomi tumbuhan itu. Dan aku juga tidak bisa mengingat apa yang saat itu aku terangkan kepada angin di hadapanku, tapi satu hal yang pasti ingatanku dan ingatan orang-orang terdekat masih sangat lekat dengan peristiwa itu. Bahkan ketika pada akhirnya aku diterima di salah satu sekolah untuk berbagi ilmu, aku melihat mbah putr...

Mari Menanyakan Ini Kepada Diri Sendiri

 Ada dua hal di dalam dunia pendidikan yang tidak dapat diabaikan begitu saja,

1. Kesejahteraan para guru yang senantiasa menjadi isu nasional dan diperjuangkan bersama

2. Efektivitas dan kualitas guru yang hanya dapat diraih dengan evaluasi dan pembelajaran sepanjang hayat

Ya, menjadi guru berarti siap belajar sepanjang hayat. Menjadi guru berarti harus siap perbaikan setiap saat. Menjadi guru berarti harus siap berhadapan dengan banyak ketidakpastian. Bukan hanya siswa yang harus belajar untuk meningkatkan pengetahuan, guru pun meski sudah sekolah tinggi tidak berarti berhenti belajar. Belajar memahami, belajar menurunkan ego, belajar menyampaikan pemahaman, belajar beradaptasi, dan paling sulit belajar mengevaluasi diri sendiri.

Seorang rekan pernah berkata bawah pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang terjadi dua arah, siswa menerima informasi baru, dan guru menerima pemahaman baru mengenai dirinya dan perkembangan siswa nya.

Seandainya dunia pendidikan belum mampu memberikan penghidupan yang pantas, apakah lantas yang terjadi justru profesionalitas disandingkan dengan materi duniawi.

Pada kenyataanya, disadari atau tidak menjadi guru adalah perihal seni menempatkan 100 persen hati, meskipun terkadang 50 50 dengan riuhnya isi kepala, makanya yang sering timbul jusru tugas yang diberikan dipilih sebagai wahana menyibukkan siswa dengan rutinitas semata, bukan didasari pada tujuan pembelajaran akan pendalaman materi. 

Lantas, mari menanyakan ini

Sudahkah lahir jiwa pendidik yang 100% itu di dalam hatimu

Pendidik yang tidak hanya menjadikan sekolah sebagai ladang penghasilan

Pendidik yang tidak hanya menjadikan kelas sebagai seremonial semata

Pendidik yang tidak hanya menjadikan siswa sebagai wadah bercerita perihal pengalaman masa lalu

Karena faktanya, para siswa hanya membaca sebagian kecil dari yang mereka butuhkan, lantas 2 hari 3 hari kemudian mereka melupakan informasi yang diperoleh karena merasa tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. 

Mike Schmoker dalam bukunya menyatakan bahwa "Guru paling berbakat sekalipun menyadari keterbatasan mereka, dan guru yang baik adalah dia yang mau dikritik, senantiasa mengevaluasi diri, dan melakukan perbaikan atas dirinya sendiri."


Dariku yang penuh retak, Rosantien

Komentar

Postingan Populer