Langsung ke konten utama

Unggulan

Wujud Harap

Ternyata benar ya, apa yang kita jalani saat ini bisa jadi adalah bagian dari apa yang selama ini kita do'akan. Dulu semasa pendidikanku masih sebatas taman kanak-kanak aku gemar sekali bermain peran menjadi seorang guru. Ya... kamu gak salah dengar. Aku memang sudah memiliki cita-cita ini sejak kecil. Konsep guru di mataku sudah tertanam kuat bahkan sejak aku baru mengenal indahnya jungkat-jungkit.  Aku suka bicara sendiri dengan buku-buku milik ibuku semasa SMA sebagai bahan pegangan. Ceritanya lagi ngajarin murid-murid, padahal mah lagi ngomong sama angin. Selayaknya anak TK pada umumnya aku jelas tidak mengerti isi buku yang sebagian besar dipenuhi gambar anatomi tumbuhan itu. Dan aku juga tidak bisa mengingat apa yang saat itu aku terangkan kepada angin di hadapanku, tapi satu hal yang pasti ingatanku dan ingatan orang-orang terdekat masih sangat lekat dengan peristiwa itu. Bahkan ketika pada akhirnya aku diterima di salah satu sekolah untuk berbagi ilmu, aku melihat mbah putr...

Apresiasi

 Apresiasi manusia hanya bunga penghias hati sesaat. Mungkin suaranya membekas dalam ingatan satu atau dua tahun sahaja, lantas menguap seolah tidak pernah disampaikan. Apresiasi manusia hanya di mulut sahaja karena kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya tersimpan di dalam hati. Mungkin di dalam hatinya tersimpan kalimat merendahkan atau umpatan tertahan yang tidak pernah berani diutarakan. Apresiasi manusia hanya sebatas aspirasi sesaat atas hasil dari kerjakeras kita yang pada titik ke sekian akhirnya terdeteksi, bukan pujian akan proses dan pujian kepada kita karena telah berhasil bangkit dari kegagalan berkali-kali yang selama ini terpampang nyata namun sering kali dipandang sebelah mata. Apresiasi manusia hanya validasi yang tidak abadi, lantas untuk apa kita bersusah mengejar apresiasi yang sebenarnya tidak benar-benar kita butuhkan. Untuk apa menunggu orang lain yang memberikan apresiasi, untuk apa mengharapkan validasi dari manusia yang sebenarnya sama-sama ingin diapresiasi oleh orang lain. Cara terbaik untuk menghargai proses dan pencapaian diri adalah dengan meromantisasi setiap proses yang telah berhasil dilalui, meromantisasi setiap kegagalan yang telah berhasil diatasi, meromantisasi setiap langkah kecil yang telah dengan berani kita jalani, meromantisasi setiap pencapaian sederhana yang mungkin di mata orang lain terkesan biasa saja. 


Hal-hal luar biasa bagi kita terkadang terkesan remeh di mata orang lain. Perjuangan berat yang telah berhasil kita lewati dengan susah payah, dengan berdarah-darah, dengan mengerahkan 100% tenaga yang kita miliki terkadang hanya dianggap sepotong beras kecil di mata orang lain. Bahkan tidak jarang justru menjadi sarana pembanding dengan proses orang lain yang dianggap lebih luar biasa, padahal sejatinya setiap orang yang bernyawa di dunia ini memiliki kehidupan versi mereka sendiri. Setiap orang punya batas juangnya masing-masing, maka tidak elok rasanya membandingkan bahkan merendahkan pencapaian orang lain dengan dalih "alah... dia berhasil mencapai itu karena bantuan usaha orang tuanya, lebih keren juga si fulan yang berproses dengan uang hasil keringatnya sendiri." Sadarilah, bahwa takdir yang dijalani masing-masing orang berbeda, mungkin saja sesuatu yang terkesan biasa bagi kamu, merupakan kebahagiaan luar biasa bagi orang lain, maka jangan hancurkan kebahagiaan dan pencapaian orang ketika kamu tidak mampu mengusahakan apapun untuk orang itu. Bersikaplah selayaknya manusia, bersikaplah selayaknya manusia yang menghargai ketika kamu menginginkan orang lain menhargaimu.


Kamar temaran yang sebentar lagi terisi banyak pencapaian membanggakan

Rosantien Juni 2024

Komentar

Postingan Populer