Langsung ke konten utama

Unggulan

Wujud Harap

Ternyata benar ya, apa yang kita jalani saat ini bisa jadi adalah bagian dari apa yang selama ini kita do'akan. Dulu semasa pendidikanku masih sebatas taman kanak-kanak aku gemar sekali bermain peran menjadi seorang guru. Ya... kamu gak salah dengar. Aku memang sudah memiliki cita-cita ini sejak kecil. Konsep guru di mataku sudah tertanam kuat bahkan sejak aku baru mengenal indahnya jungkat-jungkit.  Aku suka bicara sendiri dengan buku-buku milik ibuku semasa SMA sebagai bahan pegangan. Ceritanya lagi ngajarin murid-murid, padahal mah lagi ngomong sama angin. Selayaknya anak TK pada umumnya aku jelas tidak mengerti isi buku yang sebagian besar dipenuhi gambar anatomi tumbuhan itu. Dan aku juga tidak bisa mengingat apa yang saat itu aku terangkan kepada angin di hadapanku, tapi satu hal yang pasti ingatanku dan ingatan orang-orang terdekat masih sangat lekat dengan peristiwa itu. Bahkan ketika pada akhirnya aku diterima di salah satu sekolah untuk berbagi ilmu, aku melihat mbah putr...

Bagaimana Jika, atau Mengapa Harus

 Hari ini rabu, salah satu rabu di minggu terakhir bulan februari. Sekali lagi Tuhan memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri, sekali lagi dengan tangan-Nya takdir terasa begitu menjanjikan bahagia. Bagaimana bisa segala yang tampak nyata seperti itu kuterjemahkan berbeda. Aku masih berusaha mengartikan banyak hal dalam kepalaku. Menjawab banyak tanya yang seolah membingungkan, juga menakutkan. Menunggu takdir bekerja, menanti putaran roda itu membawaku berada di atas, atau setidaknya sedikit bergeser ke atas. Tapi bagaimana mungkin dunia yang semakin beranjak dewasa kurasakan semakin menakutkan, juga mengecewakan justru menjadi tempat paling layak merayakan bahagia. Kabar demi kabar dari tanah kelahiran sana membuatku semakin ketakutan. Bagaimana jika ternyata perjuangan 4 tahun ini tidak membuahkan harapan baik bagi keluarga kami. Bagaimana jika omongan orang tentang waktu dan uang yang terbuang hanya untuk membiayai kehidupan atau lebih tepatnya fase pelarianku ini berujung sia-sia. Aku sudah mencoba sejauh ini, mencari uang sendiri. Mendaftar berbagai lomba yang kurasa aku bisa melakukannya, mengajukan tulisan-tulisan ini kepada beberapa redaksi juga koran-koran, mencoba peruntungan dengan mendaftar pada instansi yang sesuai dengan jurusan kuliahku, juga mencoba peruntungan di media sosial namun nyatanya selalu saja menjilat kegagalan. Ini aku yang terlalu bodoh dan tidak bisa apa-apa atau takdir yang punya cerita lebih baik dari semua rencanaku. Rasa-rasanya semakin mendekati epilog sebagai anak rantau, hatiku justru semakin dibanjiri cemas.


Hari ini rabu. Selayaknya rabu-rabu yang lalu di dalam kamar kostan yang lenggang, selalu lenggang karena hanya beberapa teman yang sempat mengunjunginya, itupun tidak lama, lantas kembali sepi. Sekali waktu aku merasa bahagia berada dalam kesunyian, sendirian, dalam ruangan yang terkunci dan hanya ada aku, juga ketakutan dan mimpi-mimpi yang terasa terlalu besar untuk digapai. Kamar ini jadi tempat persembunyian paling damai dari dunia. Juga tempat pelarian paling kusukai sejauh ini. Kamar nomor 9 yang kusewa 1 setengah tahun yang lalu dengan uang beasiswa itu. Kamar yang jadi saksi tangis juga tawa perjuanganku selama beberapa tahun ini. Kamar yang di dalamnya aku tidak perlu berpura-pura jadi orang lain. Aku suka di sini, menghabiskan waktu mengerjalan beberapa hal, juga menangisi beberapa hal. Tapi sebentar lagi waktu sewanya akan berakhir. Dan mungkin tidak akan ada lagi cerita-cerita yang kubangun di dalam kamar ini. Aku tidak bisa melanjutkan sewa kamarnya karena waktu yang kumiliki terlalu terbatas, juga uang yang kupunya tidak akan cukup lagi. Mungkin besok atau lusa, ketika akhirnya kunci kamar ini bukan lagi milikku, aku akan merindukannya, merindukan waktu-waktu paling damai di dalam kamar ini. Mungkin besok atau lusa akan ada seseorang yang mengisinya dengan harapan dan mimpi-mimpi yang lebih terarah daripada yang ku punya selama ini. Mungkin besok atau lusa giliran seseorang itu yang merasakan kehilangan ketika harus meninggalkan kamar ini, entah untuk beralih ke kamar-kamar lainnya, atau bahkan kembali ke tanah asalnya. 


Aku berharap sedikit waktu yang kupunya akan cukup meraup semua kenangan di kota ini. Kenangan yang tidak akan bisa terulang lagi karena rasa-rasanya jika bukan karena cita-cita dan takdir paling tidak masuk akal yang semesta berikan, orang tuaku tidak mungkin mengizinkanku melihat dunia seperti hari ini. Tapi aku bersyukur dan bahagia atas semua yang telah terjadi. Meskipun hari-harinya tidak selalu seperti yang aku ingin. 

Komentar

Postingan Populer