Langsung ke konten utama

Unggulan

Setangkai Harap

Teruntuk engkau, sesuatu yang terasa mengkhawatirkan setiap kali terlintas dalam pikiran Bolehkah aku menitipkan setangkai harap kepada rintik hujan siang ini? Yang membawa aroma tanah ke dalam kamarku yang temaram Bolehkah bila aku berharapp bisa membersamaimu meski ku tau aku belum pantas berjalan di atas tanahmu yang indah nan wangi. Bolehkah bila ku sebut engkau sebagai nama yang ku semogakan kepada Rabbku? Sudikah kiranya engkau menjadikan pribadi fakir ilmu ini sebagai bagian dari hidupmu? Bukankah setiap cita-cita berhak jadi nyata? Maka tolong berikan aku kesempatan untuk menyelami muara ilmumu dengan syukur dan syahdu Rosantien, Agustus 2020

Rinai di pelupuk mataku

 

Rinai di pelupuk mataku

karya : Aulora Rosantien 

  Telah diikutsertakan dalam lomba dan baca cipta puisi yang diselenggarakan dalam acara IMAGE art contest oleh IMAGE Universitas Lampung 2021 

 

 

Kusaksikan rinai di pelupuk mataku

Turun tanpa henti memporak porandakan negeriku

Membanjiri ibu pertiwi dengan duka serta air mata

Menumbuhkan duri-duri yang menyelimuti pagar rumah orang-orang tak berdosa

Kusaksikan rinai di pelupuk mataku

Milyaran masker menyelimuti langit negeriku yang kelabu

Menciptakan penyesuaian yang terpaksa harus diberlakukan

Tersebab di negeriku, kematian layaknya durasi video iklan

Kita tak lagi angkat senjata

Sebab tanah ini sudah merdeka

Namun kejadian demi kejadian memaksa kita lebih waspada

Memaksa kita lebih peka pada kesehatan dan lingkungan kita

Lihat, rumah sakit yang penuh sesak

Dengan tangis dan isak

Lihat, jasad-jasad yang terbaring berhimpitan

Masihkah mungkin kau sebut ini konspirasi dan kebohongan ?

Tak ada kata menyerah demi tumpah darah yang merdeka

Sebab rinai yang jatuh di langit negeriku pasti akan berlalu

Jangan lepas maskermu, kita saling menjaga

Supaya tak ada lagi yang berpulang karena corona

 

 

Pringsewu, Juli 2021.

 

Komentar

Postingan Populer