Langsung ke konten utama

Unggulan

Wujud Harap

Ternyata benar ya, apa yang kita jalani saat ini bisa jadi adalah bagian dari apa yang selama ini kita do'akan. Dulu semasa pendidikanku masih sebatas taman kanak-kanak aku gemar sekali bermain peran menjadi seorang guru. Ya... kamu gak salah dengar. Aku memang sudah memiliki cita-cita ini sejak kecil. Konsep guru di mataku sudah tertanam kuat bahkan sejak aku baru mengenal indahnya jungkat-jungkit.  Aku suka bicara sendiri dengan buku-buku milik ibuku semasa SMA sebagai bahan pegangan. Ceritanya lagi ngajarin murid-murid, padahal mah lagi ngomong sama angin. Selayaknya anak TK pada umumnya aku jelas tidak mengerti isi buku yang sebagian besar dipenuhi gambar anatomi tumbuhan itu. Dan aku juga tidak bisa mengingat apa yang saat itu aku terangkan kepada angin di hadapanku, tapi satu hal yang pasti ingatanku dan ingatan orang-orang terdekat masih sangat lekat dengan peristiwa itu. Bahkan ketika pada akhirnya aku diterima di salah satu sekolah untuk berbagi ilmu, aku melihat mbah putr...

Rinai di pelupuk mataku

 

Rinai di pelupuk mataku

karya : Aulora Rosantien 

  Telah diikutsertakan dalam lomba dan baca cipta puisi yang diselenggarakan dalam acara IMAGE art contest oleh IMAGE Universitas Lampung 2021 

 

 

Kusaksikan rinai di pelupuk mataku

Turun tanpa henti memporak porandakan negeriku

Membanjiri ibu pertiwi dengan duka serta air mata

Menumbuhkan duri-duri yang menyelimuti pagar rumah orang-orang tak berdosa

Kusaksikan rinai di pelupuk mataku

Milyaran masker menyelimuti langit negeriku yang kelabu

Menciptakan penyesuaian yang terpaksa harus diberlakukan

Tersebab di negeriku, kematian layaknya durasi video iklan

Kita tak lagi angkat senjata

Sebab tanah ini sudah merdeka

Namun kejadian demi kejadian memaksa kita lebih waspada

Memaksa kita lebih peka pada kesehatan dan lingkungan kita

Lihat, rumah sakit yang penuh sesak

Dengan tangis dan isak

Lihat, jasad-jasad yang terbaring berhimpitan

Masihkah mungkin kau sebut ini konspirasi dan kebohongan ?

Tak ada kata menyerah demi tumpah darah yang merdeka

Sebab rinai yang jatuh di langit negeriku pasti akan berlalu

Jangan lepas maskermu, kita saling menjaga

Supaya tak ada lagi yang berpulang karena corona

 

 

Pringsewu, Juli 2021.

 

Komentar

Postingan Populer