Langsung ke konten utama

Unggulan

Jauh

Kamu tau gak, apa yang paling menyesakkan bagiku dari semua jarak ini? Kita dekat, tapi faktanya kita jauh. Bukan, bukan perihal kabar yang semakin hari semakin hambar Bukan pula perihal rindu yang luruh tersapu kelabu Tapi tentang arah, yang rasa-rasanya entah. Kita menghamba pada hampa  Pada riuh rasa percaya Juga pada sepi yang pahitnya harus ditelan sendiri Sampai kapan? 

Paru-paru tanpa oksigen

Paru-paru tanpa oksigen

Karya : Aulora Rosantien_Universitas Lampung (UNILA)

  Telah diikutsertakan dalam lomba cipta puisi yang diselenggarakan oleh Vetpagama FK Hewan UGM, Jogjakarta 



Aku terdiam ba’ lukisan di dinding pualam

Menatap wajah bumi yang penuh sulam

Menatap lurus kearah masa depan yang tandus

Menatap ragu pada raga yang menjanjikan tulus

 

Di sini, di atas tanah yang kau sebut rumah

Di atas tanah yang kau gadaikan kesuburannya

Di atas tanah yang kau pupuk dengan beton dan semen setinggi-tingginya

Aku berduka sebagai pohon yang telah kau tebang sebelum menua

 

Kau, aku, dan seluruh komponen alam

Kita merupakan rantai alam yang saling mengisi

Perilakumu dapat berpengaruh pada kehidupanku

Dan keberadaanku, dapat menjadi penentu kelangsungan hidupmu

 

Rawatlah aku dengan segenap-genapnya tulus

Siramilah aku dengan kasih sayang dan komitmenmu kepada bumi

Lestarikanlah aku dengan segenap-genapnya hati

Jadikan aku sebagai lingkungan hidup yang bersih dan nyaman bagimu

 

Menjagaku berarti menjaga keluargamu

Melestarikanku berarti melestarikan lingkungan hidup bagi anak cucumu

Menggadaikan kehidupanku berarti menggadaikan masa depan bumimu 

Karena manusia tanpa pohon, bagai paru-paru tanpa oksigen 

Komentar

Postingan Populer